The First ASEAN Children’s Forum – Catatan Perjalanan Aditya

1st ASEAN CHILDREN FORUM 2010. Satu lagi bukti perkembangan dari pengakuan terhadap partisipasi anak untuk dapat memanjakan nalarnya dalam berpikir serta menyuarakannya. Forum berskala ASEAN ini diselenggarakan selama 4 hari yaitu 19-22 Oktober 2010 di Fontana Leisure Parks, Clark Freeport, Angeles City, Phillipina.

SELASA, 19 OKTOBER 2010

Seperti yang sudah disepakati sebelumnya dan penyesuaian dengan jadwal keberangkatan pesawat, kami berkumpul di Bandara Soekarno Hatta tepat pukul 05.00 pagi WIB. Sekitar jam 06.15 pun Singapore Airlines siap menerbangkan kami ke Singapura yang akan menjadi tempat transit perjalanan kami ke Philippina. Kurang lebih dua setengah jam lamanya perjalanan hingga kami tiba di Changi Airport, Singapura.

The First ASEAN Children’s Forum
Aditya Gilank Pratama

Setelah Skytrain membawa kami ke Terminal 2, kami pun menghabiskan kurang lebih dua jam waktu transit disana. Changi benar-benar tidak ada habisnya menunjukkan kemegahannya. Waktu transit yang tergolong lama sama sekali tidak membuat kami bosan dan tidak bersemangat. Dua setengah jam pun kami habiskan dengan berkeliling dan mengambil foto di pojok-pojok menarik disana.

11.30 Singapore Airlines kembali menerbangkan kami hingga tepat pukul 15.00 kami tiba di NAIA-Ninoy Aquino Airport, Philippine. J

Tragedi Bi Ai Pi

Memang, bila dibandingkan dengan Changi, NAIA jelas berada dibawah. Namun ada satu nilai tambah dari bandara ini yang saya juga Aan dan Tiara temukan saat kami disana: mudahnya mencari tempat untuk shalat. Setibanya diruang VIP tempat kami singgah untuk sementara dibandara, kami diantar oleh salah satu pantia ACF ke Mushala di sisi lain tempat ini.

Letak mushala tepat bersebelahan dengan gereja disana. Saya menilai hal tersebut sebagai suatu poin tambah yang patut diacungi jempol. Selain tempat ibadah yang tidak sulit dicari, bersebelahannya tempat ibadah tersebut saya anggap seperti layaknya sebuah bukti sederhana akan keharmonisan umat beragama di Philippina. Salut.

Seusai shalat, kami pun bergegas kembali ke ruang VIP lagi. Namun sebuah masalah perdana pun harus kami hadapi : petugas keamanan bandara. Dengan yakinnya beliau melarang kami untuk melewati jalan yang akan menggiring kami menuju ke ruang VIP. Dia bersikeras bahwa daerah ini terlarang untuk dilewati. Begitu juga dengan kami yang terus meyakinkan beliau bahwa kami bingung padahal tadi kami juga melewati jalan yang sama tanpa ada larangan namun kenapa sekarang jadi demikian. Petugas itu tetap tidak mengizinkan kami untuk bisa melewati jalan itu. Bahkan seorang temannya yang juga petugas pun diikutsertakan dalam perdebatan itu. Hingga mereka pun bertanya kemana tujuan kami. Kami menjawab VIP tentunya dan saat itu juga alis mereka memuncak. Mereka balik bertanya apakah kami salah ruangan atau tidak karena yang ada di bandara ini adalah BIP (Bi Ai Pi). Kami bilang kami tidak salah bahwa tujuan kami adalah ruangan VIP. Karena dua hal yang tidak valid itu, kami tetap tidak dibiarkan pergi.

Selang beberapa menit, sosok panitia yang sebelumnya mengantar kami ke tempat shalat pun muncul. Dengan segera dan dalam bahasa yang tidak kami pahami yaitu bahasa Tagalog, dia menjelaskan pada kedua petugas tersebut bahwa kami memang benar rombongannya yaitu ASEAN Children Forum. Dan yang lebih mencengangkannya lagi, panitia itu mengiyakan saat si petugas bertanya apakah kami ingin ke ruangan BIP atau tidak. Dan dari situ, kami tahu bahwa Pinoys (sebutan untuk warga Philippina) cenderung menyebut V (vi) dengan B (bi). Astaga..

Budaya Salim

Karena delegasi Malaysia yang kami tunggu belum tiba juga dan jam sudah menunjukkan waktu agenda pertama ACF dimulai, panitia pun memutuskan untuk mengantar kami ke Fontana terlebih dahulu.

Hujan dengan awetnya mengiringi perjalanan kami menuju Fontana. Percakapan panjang juga hidup dalam mobil yang kami tumpangi. Dari mulai hal ringan semacam perkembangan teknologi (antara pak Wisnu dari Deplu RI dengan pak Bill dari Singapura) hingga soal ASEAN dan masa depannya di tahun 2015 (antara pak Basuni KPPPA dengan pak Wisnu Deplu RI). Untung saja saya tidak sepenuhnya tidur sepanjang perjalanan, sehingga berbagai informasi baru dari percakapan bapak-bapak di kursi depan saya dapat saya terima. J

Langit sudah gelap saat kami tiba di Fontana. Jantung saya berdegup kencang saking antusiasnya setiba disana. Parade negara sebagai kegiatan pertama malam itu pun dimulai. Masing-masing negara dipersilahkan untuk maju ke atas panggung untuk kemudian dikalungkan rentetan kerang cantik yang dihias sebuah pin resmi ACF.

Ketika tiba saatnya Indonesia, ada peristiwa kecil yang mencengangkan salah seorang petinggi ACF yang mengalungkan pin kepada kami: salim. Wajah keheranan petinggi ACF tersebut bisa dilihat dengan sangat jelas ketika masing-masing dari kami mencium tangannya (salim). Pasca itu, campuran rasa bangga dan haru yang saya rasakan akan begitu kentalnya unsur ketimuran (budaya sopan-santun) budaya Indonesia. Sampai-sampai baik saya, Aan, dan Tiara tidak menyadari bahwa kami baru saja mempresentasikannya dalam bentuk hal kecil macam salim tadi.

Seusai acara pembukaan kami mendapatkan arahan singkat akan jadwal keesokan harinya. Berat rasanya untuk beranjak dari ruang utama kegiatan ini, terlebih lagi melihat wajah para delegasi yang ada, rasanya ingin sekali menjabat tangan mereka satu per satu dan saling berkenalan untuk kemudian bercerita panjang akan hal-hal menarik seputar megara masing-masing. Namun ya, jarum jam yang sudah bertengger diangka tua ditambah dengan malam yang semakin gelap, hal paling bijak yang harus kami lakukan ialah tidur. J

RABU, 20 OKTOBER 2010

Tidur paling ‘dingin’ (dalam artian sebenarnya) yang pernah saya rasakan. Intensitas hujan di Philippine sungguh tidak kalah eksis dengan yang di Bogor. Sepanjang malam hujan bekerja sama dengan AC kamar untuk mendinginkan tidur saya. Luar biasa. Sampai-sampai gigi saya bergemeletuk ketika hendak beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi. Tapi tetap saja, hal tersebut tidak menyurutkan semangat saya menjalani hari yang saya yakin akan sangat menyenangkan. J

3…2…1…www.aseanchildrensforum.org !!!

Kegiatan pertama hari itu adalah peresmian website Asean Children Forum yang telah dibuat sebelumnya oleh kawan-kawan dari Philippina. Luar biasa rasanya, ketika kami semua para delegasi bersama-sama menyerukan hitungan mundur saat meresmikannya. Penuh semangat! Selain itu, keseluruhan tampilan yang ada di website pun juga menarik. Membuat kami semakin tidak sabar untuk bisa menjelajahinya.

Setelah diberikan arahan yang cukup jelas oleh Kuya Clark (Kuya : panggilan sopan untuk laki-laki Pinoys), kami diberi waktu untuk menjelajah isi website. Wah, fasilitas maya yang ada benar-benar lengkap. Dari mulai data-data mengenai 10 negara ASEAN yang tergabung didalamnya, galeri foto dan video hingga yang paling menarik yaitu link menuju Blog ACF. Menarik! J

What Should ACF be?

Setelah peresmian website, kami kembali ke ruang utama kegiatan untiuk kemudian mendengarkan input sharing yang disampaikan oleh Ibu Usec Alicia R. Bala (ACF Steering Comittee) dan Ibu Mega Irene (Sekretariat ASEAN). Keduanya memberikan informasi-informasi baru dan bermanfaat dalam bagian masing-masing. Ibu Usec menceritakan secara garis besar akan bentuk nyata partisipasi anak secara regional dan internasional. Dari situ kami juga bisa menarik kesimpulan bahwa ini benar-beanr kali pertamanya Forum Anak ASEAN diadakan. ACF 2010 patut menjadi catatan sejarah, kira-kira begitulah ungkapan utamanya. J

Ibu Mega menjelaskan suatu hal yang lebih berat namun mutlak perlu kami semua tahu yaitu mengenai masa depan ASEAN. Beliau menjelaskan bagaimana ASEAN pada tahun 2015, tahun dimana ASEAN ditargetkan sudah memiliki perkembangan yang pesat disana-sini. Dari situ juga kami sadar bahwa untuk mewujudkannya, peran kami anak-anak ASEAN juga sangat diperlukan.

Dua sesi sharing pun berakhir siang itu. Kegiatan dialnjutkan dengan workshop pertama yang bertajuk What Should ACF Be? Workshop ini akan membagi para delegasi menjadi beberapa kelompok. Dan masing –masing kelompok akan membahas hal-hal mendetail terkait ACF dimata kami melalui diskusi.

Saya berada di kelompok yang akan membahas hal terkait HOW dengan teman-teman sekelompok : Apple (Philipphine), Haziq dan gurunya (Brunei Darussalam), serta Huyen;Nguyen;Quan dan gurunya (Vietnam).

Inilah hasil diskusi kami yang memakan waktu kurang lebih satu jam :

1. Teknologi berbasis komunikasi (seperti ACF website) adalah jalan bagi para member ACF untuk tetap saling berhubungan selepas acara.

2. Berbagai keputusan ada melalui consensus building dalam maksud lain ialah adanya kebebasan memberikan pendapat.

3. Tuan rumah penyelenggaraan ACF ditentukan berdasarkan urutan alfabetikal negara ASEAN. (contoh: tahun ini Philippina maka tahun depan Singapura)

4. Tanggung jawab dari negara tuan rumah meliputi : administrasi, jadwal yang terkoordinir dengan baik, mempelajari evaluasi penyelenggaraan sebelumnya sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan juga memastikan 10 ASEAN mengirimkan delegasinya ke ACF.

5. Sumber dana ACF berasal dari negara-negara ASEAN dan stakeholder lainnya.

Cultural Night J

Hasil workshop 1 dari masing-masing kelompok pada akhirnya dipresentasikan untuk kemudian didiskusikan ulang. Diskusi yang ada jauh dari kata alot. Rentetan komentar dari para delegasi membuat diskusi tersebut berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan. Tapi mau tidak mau, ketika hari menjelang malam sekitar pukul 6, kami harus mengurungkan niat kami untuk berdiskusi lebih lama lagi. Karena ada acara yang tidak kalah penting dan menyenangkan menunggu kami malam ini. Cultural Night!

Masing-masing negara mempresentasikan budaya mereka ke atas panggung. Begitu juga dengan saya, Aan, dan Tiara. Masing-masing dari kami pun memanfaatkan waktu yang diberikan dengan menunjukkan 3 penampilan berbeda. Tiara dengan eloknya menampilkan tarian asal Sumatra Barat, tempat daerah asalnya. Dan Aan dengan merdunya memainkan sulingnya dengan lagu Gundul-Gundul Pacul asal Jogjakarta, tempat daerah asalnya. Hanya saya yang melenceng dari budaya saya yang sebenarnya. Saya menampilkan drama monolog tentang Malin Kundang dari Sumatra Barat disisi lain saya adalah anak Jakarta.

Malam budaya yang menyenangkan. Seusai penampilan, panitia mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling mempersiapkan untuk malam itu. Tapi tetap, negara lainnya juga tidak kalah menyenangkan. Semua delegasi dari semua negara tetap pada tujuan utama malam itu; menebar kebahagiaan lewat budaya.

KAMIS, 21 OKTOBER 2010

Satu lagi pagi yang ‘dingin’. Hujan masih setia menemani tidur saya di villa Fontana itu. Begitu juga dengan saya yang masih setia untuk tetap mengikuti rangkaian kegiatan ACF 2010. Hari ketiga : Kunjungan Lapangan. Pasti menyenangkan! J

Panorama Dinding Philippina Pasca Pemilu

Setiap delegasi diberikan kebebasan untuk memilih tujuan kunjungan lapangan. Saya memilih Baseco di Manila dengan issu terkait anak dan kemiskinan. Perjalanan menuju Baseco tergolong lama. Namun biar begitu, saya tetap tidak mau rugi dengan tidur dan membiarkan mata saya melewati panorama Manila dihadapan saya. Saya pun terjaga hingga sampai ke tempat tujuan. Pertanyaannya, apa yang saya lihat?

Manila tidak begitu berbeda dengan Jakarta terutama soal kepadatannya. Hal baru yang saya lihat meliputi Jeepney (Jeep yang dijadikan angkutan umum di Philippina), becak motor, hingga taxi dengan motif bagus diatas bodinya. Pada akhirnya, saya dikecewakan oleh panorama dinding disepanjang perjalanan. Selebaran kampanye mendominasi dinding-dinding yang ada sana. Memang wajar karena Philippina memang masih dalam masa Pemilu. Namun saya tetap tidak suka akan hal itu. Bagi saya hal itu adalah pendukung berkurangnya estetika lingkungan di suatu tempat. Bagaimana tidak, kalau kertas menempel dan hendak dilepas pasti akan meninggalkan bekas. Itu dia yang akan mengotori dinding yang ditempelkan.

Ini bukan kali pertamanya saya melihat hal serupa. Di Jakarta juga saya ingat betul pada masa-masanya Pilkada dan Pemilu juga terjadi hal yang sama. Menurut saya, alangkah lebih baiknya kalau tim kampanye beralih hanya menggunakan spanduk, kaos, atau, bendera dalam mempromosikan pihaknya. Dengan begitu, keindahan lingkungan tidak perlu menerima dampak negatif dari masa kampanye seperti itu.

Baseco, Port Area, Manila

Akhirnya tiba juga kami di tempat tujuan. Suasana yang memprihatinkan. Saya dapat melihat dengan jelas anak-anak sedang bermain dengan girangnya diatas tumpukkan sampah yang berbukit. Aroma tidak sedap dari daerah itu juga dengan ramahnya menyambut kedatangan kami.

Lingap Pangkabataan dan World Vision memulai aktifitas kami ditempat itu dengan memberikan pengenalan akan mereka, juga kaitannya dengan Baseco. Dari hasil perkenalan tersebut bisa disimpulkan bahwa baik Lingap Pangkabataan dan World Vision adalah dua pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Baseco.

Baseco sendiri berdasarkan yang saya tangkap dari narasumber, merupakan salah satu daerah di Manila yang paling perlu disorot karena hal-hal berbau kekurangan yang dimiliknya. Tidak heran, ternyata bukan hanya Lingap Pangkabataan dan World Vision saja yang menaruh perhatian terhadap daerah ini. Bedanya, Lingap dan World Vision memberikan perhatian sepenuhnya dibuktikan dengan program yang berkelanjutan. Contohnya pembukaan rumah belajar bagi anak Baseco yang didalamnya terdapat: bimbingan belajar itu sendiri(semacam les), pelatihan minat dan bakat (teater, vokal, dsb), serta pelatihan kepemimpinan.

Setelah sesi perkenalan dan waktu tanggap menanggapi beres, kami diberi tugas untuk mengaitkan antara masalah yang ada di Baseco ini dengan yang ada di negara asal masing-masing untuk kemudian menuliskan juga apa yang bisa kita lakukan akan hal itu.

Saat itu saya mengemukakan bahwa masalah yang ada disana terjadi juga di Indonesia. Kemiskinan masih akrab dengan sebagian masyarakat Indonesia. Pemerintah sendiri sudah berusaha mengatasinya dengan berbagai program. Dan untuk yang kaitannya dengan anak-anak, saya juga menyampaikan bahwa di Indonesia sendiri sudah banyak anak-anak dalam suatu himpunan yang memperjuangkan sesuatu untuk anak-anak dan peduli dengan issu-issu terkait anak salah satunya kemiskinan.

Selain itu, kami juga diberi tugas untuk membuat sebuah poster yang menggambarkan kondisi kemiskinan di negara masing-masing.

dalam gambar tersebut, saya mencoba menyampaikan bahwa saat ini kemiskinan yang menimpa anak-anak di Indonesia cenderung disebabkan oleh banyaknya bencana alam yang terjadi. Adanya bencana tersebut membuat mereka kehilangan rumah, waktu belajar di sekolah, hingga bahkan orang tua mereka sendiri. Oleh karena itu, garis besar dalam gambar saya adalah “Disaster causes Poverty”.

Sore menjelang, kami pun kembali menuju Fontana. Setelah itu, tidak ada kegiatan lagi setelahnya. Setelah sebelumnya kelompok saya mampir ke pasar swalayan di Fontana untuk membeli mangga kering khas sana, kami semua kembali ke villa masing-masing dan bersiap untuk memulai hari setelahnya. J

JUMAT, 22 OKTOBER 2010

Saya terbangun agak kesiangan. Alhasil, saya harus secepat kilat bebenah diri untuk kemudian langsung menuju ke ruang kegiatan. Namun ternyata, kegiatan masih akan berlangsung sekitar jam 10 dan saat itu masih jam 9. 1 jam masih tersisa dan panitia memutuskan untuk mengajak delegasi berkeliling Shopping Mall yang lokasinya tidak jauh dari Fontana.

Masih pagi padahal, namun SM sudah cukup dipenuhi pengunjung dan toko-toko yang berjualan. Berhubung saya yang belum sarapan, Jollibee (tempat makanan cepat saji yang terkenal disana) pun menjadi tujuan pertama. Ditemani Athe (panggilan sopan untuk perempuan Pinoys) MJ, kami menyantap kentang goreng yang saya beli disana.

Waktu belanja yang Cuma sebentar membuat saya enggan untuk membeli banyak barang (juga pertimbangan peso di dompet sebenarnya. Hehe). Sisa waktu saya pergunakan untuk berfoto-foto dengan para Athe yang juga enggan berbelanja (karena sudah bosan dengan SM mungkin). J

Kegiatan segera dimulai setibanya kami di Fontana. Yaitu berupa konferensi singkat sebagai bagian dari penutup acara forum ini. Setelahnya, dipandu Kuya Lakan (ketua fasilitator), kami mengkaji kembali hasil-hasil yang telah kami dapatkan selama forum. Dan yang menjadi sorotan utama adalah hasil dari Workshop 1 yang membahas soal ACF oleh kami. Pengkajian tidak berlangsung lama karena masing-masing dari kami sudah sepakat akan hasil itu.

Berakhirnya kajian tersebut berakhir pula seluruh rangkaian kegiatan utama kami dalam forum. Sebenarnya masih ada pesta perpisahan yang akan diadakan malamnya. Namun kami para delegasi Indonesia tidak dapat mengikuti acara tersebut karena sebelumnya kami sudah sepakat untuk bermalam di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) disana.

Sedih rasanya harus berpisah dengan teman-teman delegasi lainnya. Tapi kedewasaan berpikir menegaskan kami pada akhirnya, bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dengan berbekal pemikiran seperti itu, kami pun pamit dan bersiap menuju KBRI.

Setelah berhasil melewati macetnya jalan yang membuat perjalanan menjadi lebih lama, kami pun tiba di KBRI untuk kemudian makan malam dan isntirahat. J

SABTU, 23 OKTOBER 2010

Kami berhasil mencapai target kami untuk bangun pagi saat itu. Sejak jam 6 pagi, semua sudah bersiap memulai hari. Setelah berpamitan dengan Pak Wisnu (Deplu RI) dan Pak John (Deplu RI) yang harus mengejar pesawat jam pagi, kami langsung memulai hari dengan berkeliling KBRI.

Nuansa pagi yang segar ditambah obrolan yang segar dengan pak Basuni (KPPPA) benar-benar membuat pagi menjadi segar. Sepanjang kami berkeliling KBRI, beliau menceritakan banyak hal informatif berdasarkan pengalaman hidupnya. Dari mulai yang berat-berat seperti pengalamannya mengenyam pendidikan di luar negeri yang bisa beliau raih atas usaha dan tekad yang luar biasa, hingga yang paling sederhana namun paling mengena bagi kami yaitu kisah romantis miliknya dengan salah seorang gadis Jepang yang merupakan teman kuliahnya saat itu. Terlalu panjang kalau harus diceritakan disini yang pasti hal itu sangat berkesan dan inspiratif bagi kami.

Beruntunglah bagi Pak Basuni, beliau akhirnya berhasil terbebas dari lontaran pertanyaan-pertanyaan kami yang tidak ada habisnya, karena sudah waktunya bagi kami untuk bergegas meninggalkan KBRI.

Sebelum ke Bandara, kami menyempatkan untuk mampir ke area Jose Rizal, sang tokoh fenomenal di sana dan juga ke tempat yang tidak kalah pentingnya…Mall Of Asia!

Puas berbelanja, kami segera menuju ke NAIA-Ninoy Aquino Airport untuk kemudian sekitar 14.30 Singapore Airlines kembali menerbangkan kami menuju Tanah Air tercinta, Indonesia. J

Demikianlah laporan tertulis yang sekiranya dapat mewakili pengalaman luar biasa berharga saya selama disana. Puji syukur kehadirat Allah SWT saya bisa berkesempatan memperoleh pengalaman berharga seperti ini.

Terima kasih kepada Ibu Linda Amalia Sari, Bapak Wahyu (Deputi Tumbuh Kembang Anak) dan jajarannya di Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atas kepercayaan yang diberikan pada saya untuk bisa menjadi delegasi Indonesia dalam forum ini.

Selain itu terima kasih juga kepada Bapak Wisnu Edi Pratignyo (Deplu RI) serta Bapak John Purba (Deplu RI) yang mendampingi kami dari awal hingga akhir acara. Dan mereka jugalah yang berperan untuk membuat kami tidak perlu berlama-lama mengantri di bagian imigrasi bandara dan juga berupa perizinan menginap di KBRI sana.

Juga khususnya kepada Bapak Usman Basuni (KPPPA), mentor yang merangkap Ayah kami selama disana. Beliaulah pemegang tanggung jawab utama akan kami bertiga para delegasi Indonesia selama disana. Terima kasih kami tujukkan kepada beliau telah menjadi mentor, Ayah dan pencerita yang baik bagi kami selama disana.

Dan yang terakhir yaitu kepada seluruh Delegasi dalam ASEAN Children Forum. Terutama kepada Aan Fajar Lestari dan Tiara Permata Chandra sebagai sesama delegasi Indonesia. Saya benar-benar mengalami hari yang berharga dan menyenangkan bersama mereka.

Sekadar memberi informasi, ulang tahun saya jatuh tepat tanggal 18 Oktober. Dengan begitu, saya nyatakan, sepaket pengalaman luar biasa berharga selama ASEAN Children Forum ini adalah kado ulang tahun paling berharga untuk saya di tahun ini. J J J

Comments

  1. tau gitu kemarin aan bawa telor n tepung buat menggemparkan Clark dengan muka adit belepotan adonan.. hahah

    Happy very belated birthday adiiit!! ^^

Leave a Reply

Required fields are marked*