The First ASEAN Children’s Forum – Catatan Perjalanan Aan

Alhamdulillahhi Rabbil’alamin..

The First ASEAN Children’s Forum
Delegator dari Indonesia untuk ASEAN Children Forum (dari kiri): Aan Fajar Lestari (D.I. Yogyakarta), Aditya Gilang Pratama (D.K.I. Jakarta), Bapak Usman Basuni (Pendamping dari Meneg PPPA), Tiara Permata Chandra (Riau)

Sungguh memang jalan Tuhan Aan bisa menjadi delegasi Indonesia untuk ASEAN Children Forum. Suatu kehormatan, Aan dipercaya negara memangku peran ini. Terimakasih Aan ucapkan kepada yang tercinta pemerintah Negara Republik Indonesia. Khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, juga ASEAN yang memfasilitasi kami dalam Children Forum. Terimakasih telah menyayangi kami dan memberikan kami ruang untuk berpartisipasi. Tidak lupa, orangtua Aan, Ayah Muhammad Untung dan Ibu Suparminah, beserta seluruh keluarga dan teman, terimakasih untuk dukungan, support dan doa yang terbuat.

Sebelum anda lelah membaca laporan Aan, biarkan Aan mengungkapkan ini. Dalam ASEAN Children Forum, Aan mendapatkan banyak horizon pengetahuan, ilmu, teman, sense of belonging, pengalaman, kebahagiaan, tantangan, senyum, kasih dan sayang. Dan mungkin sedikit kesedihan ketika Aan harus berpisah dengan mereka, kembali mengabdi pada Indonesia. Meskipun kami hanya sebentar bersama, tapi rasa saling mengasihi dan menyayangi tercipta di hati kami. Ketika delegasi Indonesia harus berpamitan pulang terlebih dulu, hampir semua partisipan, fasilitator, panitia, pembina, menangis mengantar kepergian kami. Itu hal yang sungguh terjadi dan sangat merasuk di dalam hati Aan. Begitu erat tali kasih sayang antara negara, tapi kenapa sesama saudara di negara sendiri sulit sekali untuk hanya sekedar saling mengarti dan toleransi.

Hari pertama

The First ASEAN Children’s Forum
Delegator ‘terkucel’ dari kiri: Aditya Gilang pratama (Jakarta), Tiara Permata Chandra (Riau), Aan Fajar Lestari (Indonesia), Bp. John Purba (Staff Menlu), Bp. Usman Basuni (Pendamping dari KPPA RI), Bp. Wisnu (Pendamping dari Menlu)

Kami datang sedikit terlambat. Tepat 5 menit sebelum pembukaan dimulai, pukul 06.30 pm. Aan rasa, delegasi dari Indonesia yang paling ‘kucel’ saat upacara pembukaan itu. Kami bahkan belum sempat memindahkan kopor apalagi mencuci muka, saat kami disambut hangat dalam upacara pembukaan. Tapi, itu tidak berpengaruh, Kami tetap berpartisipasi layaknya mereka yang berdandan ‘wah’. Aditya medapat kesempatan untuk memegang bendera Indonesia Saat uacara penyambutan. Dan Aan dipercaya untuk menyampaikan rasa anak Indonesia di depan seluruh partisipan ACF. Kami membuat karya origami love, pesawat, gambar anak, bunga yang Aan presentasikan dalam forum tersebut.

Ice breaking, yel yel dan game motivasi kami mainkan setelah makan malam. Perkenalan “Getting-To-Know-you” kami memperkenalkan diri dan negara kami. Dengan jargon briefing konferensi “From Vision to Action through Children Participation” kami menjadi lebih bersemangat dan terarah berpartisipasi dalam ACF. Sambutan dengan cerita motivasi disampaikan oleh Sec. Corazon Juliano Soliman (Sekretaris dari Depertement of Social Welfare anda Development (DSWD).

Hari ke dua

Kami melaunching website Asean Children Forum. Kami juga diajarkan bagaimana cara menggunakannya. Media ini dinilai paling efektif untuk mewadahi suara anak di setiap negara ASEAN. Dan setiap partisipan ACF, dipastikan mendapat account website tersebut. Jadi, Kami bisa ikut berparisipasi menulis dan menyuarakan aspirasi anak Indonesia di ranah Internasional. Khususnya ASEAN.

Selepas launching, Kami dipersilahkan melihat pameran implementasi hak anak dari setiap negara ASEAN Pameran dari Negara Indonesia disusun oleh mentor kami, bapak Usman Basuni. Karena padatnya jadwal partisipan anak, jadi kami tidak bisa membantu menyiapkan bahan pameran. Bila dibandingkan, media promosi hak anak di Indonesia tidak sebagus media promosi hak anak di negara ASEAN lain, seperti Singapura, Filipina, Kamboja, Brunei darusalam, Malaysia dll.

Media komunikasi mereka, mudah dicerna anak anak. Dengan dipoles seni, dicetak dengan cover yang menarik, menjadikan media lebih menarik mata. Meskipun contentnya tidak jauh beda dari Indonesia. Namun, patutnya kita bisa menggunakna strategi pengemasan indah ini untuk lebih menyuarakan hak anak.

The First ASEAN Children’s Forum
Aan mempresentasikan hasil diskusi kelompok mengenai ACF’s website.

Selepas pameran, diskusi anak dimulai. Kami dibagi ke dalam 5 kelomppk yang mendiskusikan tentang apa itu, siapa, bagaimana, untuk apa, dan website ACF. Partisipan anak berjumlah 28 anak se ASEAN dengan 5 diantaranya anak diffable. Namun dengan keterbatasan, mereke tetap dapat, bahkan lebih bisa perartisipasi dalam forum. Kami didampingi 8 fasilitator sebaya. Delegator Indonesia masuk ke dalam 3 kategori kelompok, yakni: Websita ACF (Aan Fajar Lestari), untuk apa ACF (Tiara Permata Chandra) dan bagaimana seharusnya ACF (Adiyta Gilang Paratama). Dan ketiga delegator Indonesia mendapat kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kami di tiap kelompok karena aktif berdiskusi. Tidak semua anak bisa mendapatkan kesempatan ini.

Cultural Night adalah malam yang sangat menggembirakan. Kami menari, bernyanyi, bergandengan tangan, tertawa, bercanda, bersama. Delegator dari Indonesia menampilkan Tari Persembahan Riau (Tiara), story telling (Adit), dan memainkan lagu Gundul Gundul Pacul dengan recorder (Aan). Semua partisipan anak dan mentor ikut ambil bagian dalam kemeriahan malam itu.

Hari ke tiga kami berpartisipasi dalam Field Visit. Yaitu mengunjungi tempat/ komunitas/ organisasi yang langsung bergerak di bidang anak dan semua menyangkut tentangnya. Mempelajari inisiatif pemerintah, NGO, dan organisasi anak local untuk menyuarakan hak anak, khususnya bagaimana anak dapat berpartisipasi. Didampingi fasilitator Kuya (Kakak/Mas) Caarlo James Jagnaan, Aan dan rombongan mengunjungi kantor Save The Children (NGO) di Blk 31 LOT C1-3 Maya Maya, St. Pit 2 Dagat Dagaian, Navotas, Philipine. Disambut oleh Mr. Dennis Valas Co selaku Manager Save The Children. [Ket. Gambar: Anak binaan Save The Children. Rombongan ACF berdialog dengan mereka].

Kami diperkenalkan dengan Bat People (Manusia Kelelawar) lewat sebuah video. Yakni orang orang bernasib kurang baik yang tinggal di kolong jembatan di kota Manila. “Your Bridge, Our Home”. Save the Children dan ZOTO (Zone One Tondo Organization) memiliki program “Building and Rebuilding Lives”. Yaitu membangunkan rumah untuk Bat People. Ternyata dibalik kemegahan kota Manila, terdapat kemiskinan yang begitu memprihatinkan. Dari 10,2 miliar penduduk di kota Manila, 55% penduduknya miskin. 150.000-200.000 penduduknya adalah imigran dari wilayah miskin.

80 miliar total penduduk di Filipina, 28 miliar penduduknya miskin. Dari 28 miliar tersebut, 12 miliar adalah penduduk yang bekerja dan 16 miliar sisanya pengangguran. Tidak semua orang bisa makan tiga kali sehari. Sedikit orang yang bisa mengkonsumsi makanan bergizi. Banyak anak tidak dapat bersekolah. Sebaliknya, anak orang kaya dan memiliki segalanya, tidak sedikit yang terpeleset ke pergaulan bebas. Kenaikan angka imigrasi, kepadatan penduduk, pengangguran, kemiskinan, gizi buruk, kematian tiap tahun meningkat. Pemerintah Philipina belum gencar memberlakukan program transmigrasi.

Namun anehnya, banyak sekali lahan tidak terjamah di kota Manila. Rumputnya yang hijau menandakan lahan subur, namun tidak ada yang menanam padi atau tanaman lain. Lahan sangaaaat luaaas. Lebih dari cukup untuk sekedar ‘memanusiakan’ Bat People yang banyak terselip di bawah jembatan. Sedangkan fasilitas untuk orang kaya, melimpah ruah, bahkan sampai terbuang mubadzir. Aan tidak habis pikir. Ada apa dengan negara indah Philippine ini?

Selepas makan siang, rombongan Aan kembali ke vila Vontana. Kami menumpahkan hasil field visit kami dalam sebuah kertas. Membandingkan Filipina dengan negara kaami masing masing. Aan menuliskan apa yang sudah dilakukan, fasilitas dan program untuk pengembangan anak, target yang tercapai dan yang belum tercapai oleh pemerintah Indonesia. Seperti adanya Forum Anak Nasional beserta sekretariatya, penghargaan Pemimpin Muda dan Penulis Muda Indonesia, Si Bolang Award, Penjara khusus untuk Anak, Kota Layak Anak, UU Perlindugan Anak, TESA, dll.

Diskusi kelompok membahas hasil field visitsdari Save The Children.

Kemudian kami menyusun apa yang akan kami sampaikan kepada para pemimipin ASEAN, dalam Pertemuan Kementerian Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat ASEAN (ASEAN Ministrial Meeting in Social Welfare abd Development-AMMSWD). Jadwal seharusnya pada 03.30-06.00 pm, kami dibebaskan untuk menikmati Fontana Water Park Fun dengan berenang sepuasnya. Tetapi karena tugas laporan Field Visit belum selesai dan kami sudah kelelahan, tidak seorang pun partisipan yang mengunjungi water Park itu.

Hari ke empat

Kami bersama menonton video dokumentasi kegiatan kami selama 3 hari. Sangat lucu ternyata kekonyolan yang kami perbuat. Aan dan Adit mendapat kesempatan untuk mengungkapkan komentar partisipan ACF dalam dokumentasi tersebut. Sayangnya, sampai laporan ini Aan buat, kami belum mendapatkan copy dokumentasi, account website dan sertifikat ACF.

Diskusi awal, kami membahasi bagaimana cara pengemasan pesan anak agar menarik dalam AMMSWD. Delegasi Indonesia memberi masukan untuk mengemas pesan kami dalam video letter. Jadi, meskipun tidak semua partisipan ACF dapat hadir dalam pertemuan AMMSWD, setiap suara kami masih bisa tersampaikan. Usul kami disambut baik oleh semua pertisipan. Di akhir acara, dibuatlah video letter tersebut.

Kami juga membahas siapakah yang akan dikirim dalam AMMSWD. Dari diskusi kami, disimpulkan bahwa setiap negara ASEAN akan mengirimkan satu delegasi anak yang menjadi partisipan dari ACF untuk menyampaikan suara ACF ke AMMSWD di Brunei Darusalam November 2010 nanti. Siapakah yang akan menjadi delegasi Indonesia? Wait and See.. ^_^

Draft mentah diskusi kami, kemudian dimatangkan dalam sidang pleno. Dipandu oleh Mr. lakan Bunyi setiap negara mempresentasikan hasil diskusi setiap negara dan negara lain akan memberi masukan.

Lalu, Press Conference. Setiap negara mengirimkan satu wakil untuk menyampaikan komentar dalam press conference itu. Dari Indonesia mewakilkan Aan. Aan menyampaikan : “ Kalian orang dewasa, harus memberikan hak kami. Tidak hanya dalam sebuah program, tapi juga sayangilah kami semua dalam setiap detik kalian, layaknya kalian memberikan kasih sayang pada anak kalian. Sayangilah kami dari hati, dengan begitu tidak akan terasa berat bagi kalian untuk berbuat yang terbaik untuk kami. Terimakasih.” [Ket. Gambar: Mr. Lakan Bunyi memandu diskusi pleno].

Acara Press Conference tidak berlangsung lebih dari 30 menit. Dengan sedikit lontaran pertanyaan dan jawaban, moment itu sangat menegangkan untuk Aan. Terlebih lahi puluhan kamera di depan mata Aan. Namun semua berjalan sangat lancar.

Sebelum acara closing ceremony, kami lunch bersama. Di tengah makan sang tersebut, Aan diwawancarai sebuah televisi nasional Philipine. Hal yang Aan sampaikan tidak jauh berbeda dari apa yang Aan sampaikan di press conference. Tapi sayangnya, liputan tersebut tidak disiarkan di Indonesia. Hehe. ^_^

Selepas acara closing ceremony, inilah moment yang paling berkesan dan berat untuk Aan. Delegasi Indonesia harus pulang lebih awal dari negara lain. Padahal, di malam harinya diadakan cultural night party sebagai malam perpisahan. Namun perpisahan Indonesia daiadakan di sore harinya. Puluhan mata menagis. Kami berpelukan satu sama lain. Memberikan pesan terakhir dan cindera mata. Ternyata delegasi dari indoensia sangat member arti untuk partisipan lain. Separuh lebih dari partisipan anak dan dewasa bahkan memilih meninggalkan acara unutuk mengantarkan kami hingga naik ke mobil. Sangat menyentuh. Kenangan 4 hari bersama kawan ACF terus terngiang selama perjalanan ke Kedutaan Besar Indonesia di Manila.

Untuk waktu satu malam kami menginap di kedutaan besar Indonesia bersama Bapak Wisnu dan Bapak John Purba dari Kementerian Luar Negeri RI. Paginya kami berjalan jalan di Kota Manila. Mengunjungi monument Pahlawan Hoze Rizal, Pantai Manila, Asia Mall, dll menuju bandara Internasional Manila. Kami terbang ke Singapura kemudia pulang ke Jakarta. Sungguh pengalaman yang begitu tinggi nilai dan harganya. Terimakasih Indonesia. ^_^ [Ket. Gambar: Aan menyampaikan statements saat press conference]

Pengalaman Lucu:

1. Berwudhu

Di hotel mewah Montana, ternyata bisa kehabisan air. Kebetulan waktu Aan dan delegasi dari Indonesia ingin melaksanakan ibadah Dzuhur. Kami bingung mencari air untuk wudhu. Saking ramahnya panitia dan pihak hotel, mereka mengambilkan teko berisi air es yang seharusnya untuk minum tamu. Mereka membantu kami berwudhu di halaman hotel dengan mengucurkan air tersebut. Hahaha. Sungguh menggelikan. Ternyata, Shane (fasilitator yang membantu kami) baru pertama kali ini melihat orang berwudhu. Dia terheran heran. Bahkan kami sampai menjadi bahan tontonan sesaat. Lihat, mereka sangat menghargai perbedaan. Dia yang berbeda agama mau membantu kami melaksanakan salah satu rukun ibadah. Meskipun Shane selaku fasilitator pasti sangat sibuk, dan dia harus ikut basah terciprat air wudhu, Shane mau membantu kami. Dan dia senang dan ikhlas. Pengalaman lucu yang menyimpan berjuta makna. ^_^

2. Tissu dan hadast

Saking mewahnya hotel Montana. Tidak ada toilet yang menyediakan air. Kami diharuskan menggunakan tissue. Aan tidak nyaman dengan hal ini. Karena tissue tidak membebaskan kita dari hadast. Akhirnya, Aan meminta 5 gelas plastik kepada waitres di dapur hotel. Setiap Aan ingin buang air kecil, Aan bawa 5 gelas itu ke kamar mandi dan mengisinya dengan air di wastafel kemudian Aan bawa ke toilet. Saat Aan melakukan adegan itu, Cekgu dari Malaysia melihatnya. Pertama beliau terpingkal pingkal dengan ulah Aan. Tapi kemudian, Cekgu itu meminjam gelas Aan dan melakukan hal yang sama. Haha.

Pengalaman mengesalkan:

1. Kunci dan “orang gila”

Hari pertama kami menginjakan kaki di villa Montana. Tempat kami menginap bukan hotel. melainkan villa yang luasnya puluhan hektar. Setiap negara menempati satu villa mewah. Dan kami membayar jutaan, setiap orang per malamnya. Dengan kemewahan itu, Key-card tidak berfungsi. Waktu itu sudah menunjukan pukul 11 malam. Dan taifun sedang terjadi. Lahan yang begitu luas dan sepi. Kami tidak tahu harus menghubungi siapa dan dimana. Akhirnya, Aan dan Adit harus berlari menuju gerbang masuk villa yang disana ada petugas. Di tengah hujan dan angin, dengan meraba raba jalan. Kami tidak tahu harus lewat jalan mana. Dan akhirnya, kami menemukannya, lebih dari 20 menit berlari di tengah taifun! Wow! Fantastis! Akhirnya, kami diantar oleh petugas ke villa kami dengan mobil, dan mereka mengganti kuncinya. Sampai di villa, Aan, Adit, tiara dan pak Usman harus menunggu sekitar 20 menit lagi di depan villa karena kuncu yang dibawa petugas tadi juga tidak berfungsi. Wooalah! Saat kami menunggu, Pak Usman bercerita bahwa ketika Aan dan Adit pergi mengambik keycard, ada orang gila tanpa baju berteriak teriak di tengah hujan. Mabuk sepertinya. Tiara dan pak Usman merapat ke dinding agar tidak terlihat. Astaga! Bayangkan! Di villa semewah itu, kami bisa mendapatkan pengalaman konyol ini..

Masukan:

1. Sebaiknya dialokasikan waktu untuk beribadah. Terlebih lagi, diadakan jadwal beribadah bersama menurut keyakinan masing masing. Karena dalam ACF sama sekali tidak diberikan waktu beribadah. Aan merasa kesulitan dalam menemukan waktu beribadah. Bukankah program pendidikan karakter sedang digalakan di seluruh dunia. Dan karakter pribadi yang baik, dimulai dari karakter ibadah yang baik pula.

2. Jangan menggunakan tempat menginap model villa. Karena sesama partisipan yang berbeda negara menjadi terbatas berinteraksi satu sama lain.

3. Cari hotel yang ada air di setiap toiletnya.

4. Pembagian tempat menginap diacak untuk semua pertisipan. Tidak dikelompokan berdasarkan kesamaan negara. Jadi, partisipan beda negara bisa menjadi lebih dekat satu sama lain.

Yogyakarta, 25 Oktober 2010

Comments

  1. hey friend, i liked your article so much i even bookmarked it here. cheers.http://www.listasegmentada.com

Leave a Reply

Required fields are marked*