KPB Siap Dampingi Korban Kasus Murid SD Dihamili Pamannya

 

Sabtu, 28 Mei 2011, dikutip dari metrobalikpapan.com Kasus yang menimpa Irni (12) akibat ulah pamannya ST yang menyebabkan kehamilan sangat memukul  slogan Balikpapan Madinatul Iman.

ROSHAN FAUZI (Balikpapan Pos)

KETUA Koalisi Perempuan Balikpapan (KPB) yang  diketuai Hj Azimah Imdaad Hamid mengaku sangat terkejut. Ia memastikan KPB akan berusaha memberikan pendampingan dan perlindungan bagi korban.

Masya Allah, tega betul paman korban, untuk ini, polisi harus segera memprosesnya dengan payung hukumnya yaitu UU perlindungan anak, dan kepada tersangka tidak segampang itu melepaskannya,” tandas Azimah saat dihubungi Balikpapan Pos, via telepon seluler sesaat tiba dari Jakarta pukul 15.15 Wita kemarin.

Menurut Azimah, pelaku yang juga merupakan pamannya ini harusnya kasihan karena korban mengalami keterbelakangan mental, bukannya malah memanfaatkan untuk dicabuli.

“Bukan malah membantu, eh si paman malah makan keponakan sendiri, dan sangat saya sayangkan kenapa hal ini masih terjadi di kota Balikpapan yang Madinatul Iman, apalagi yang menjadi korban kekerasan adalah seorang anak,” jelas Azimah kembali.

Dirinya melihat, masih adanya kasus–kasus kekerasan terhadap anak di kota Beriman, karena lamanya penyelesaian kasus-kasus tersebut oleh pihak aparat. “Jadi banyak alasan mengapa kasus-kasus kekerasan pada anak tidak banyak selesai, karena memang kasusnya yang lama baru P-21 sehingga mengakibatkan trauma pada anak, bahkan ada yang dibiarkan saja,” ucap istri Wali Kota Balikpapan ini.

Kasus kekerasan pada anak yang terjadi, Azimah menerangkan, juga disebabkan oleh begitu mudahnya tayangan-tayangan yang berbau pornografi pada televisi. “Bahkan beberapa waktu lalu saya menemukan sendiri di salah satu TV kabel Balikpapan malah mempertontonkan sebuah lagu yang di dalamnya ada adegan yang tidak laik ditonton oleh anak,” protesnya.

Seharusnya, ia menegaskan, tayangan-tayangan lokal seperti ini harusnya jangan ada di Balikpapan, sebab mereka tinggal di Balikpapan. Mereka harusnya mengerti bahwa Balikpapan mempunyai konsep Madinatul Iman, sehingga tidak menayangkan adegan yang berbau pornografi.

“Mencegah anak-anak dari menonton VCD sudah dilakukan tetapi tontonan- tontonan tidak laik masih tetap ada, tentunya jika melihat motto Balikpapan Beriman, tidak diizinkan lagi, tayangan-tayangan seperti itu ada di tv kabel,” ucapnya.

Kembali Azimah Imdaad menekankan, KPB siap untuk melakukan pendampingan, yang jelas jika sudah tahu alamat anak si korban itu berada, pihaknya akan melakukan kunjungan.

“Kami mengimbau kepada penegak hukum supaya menyelesaikan dengan tuntas dan betul-betul kasus  ini karena jadi perhatian kita, sebab si korban merupakan anak-anak harapan bangsa, guru-guru, dan masyarakat Balikpapan kedepan. Merekalah yang menjadi generasi  Balikpapan  yang akan mengantikan  kita-kita kedepannya,” pungkas Azimah.

MINTA JANGAN DIEKSPOSE

Sementara itu, Kasatreskrim AKP Gendut Supriyanto mengatakan, korban hingga kini memang belum di dampingi KPB. “Belum ada koordinasi dengan KPB.  Sementara tersangka belum dapat ditemui.  Kasus ini kalau bisa jangan diulas terus, karena kasihan korban dan keluarganya,” kata Gendut saat ditemui Jumat (27/5) kemarin.

Ia kembali menegaskan, kasus ini akan terus berlanjut sampai ke pengadilan. “Kasus tetap berlanjut. Kami juga melakukan penelusuran, apakah ada dugaan keterlibatan pelaku lain maupun ada korban lain selain Irni,” ujarnya.

Untuik diketahui, Irni (12) yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 3, disetubuhi hingga kandungannya berusia lima bulan lebih. Bukan hanya itu, Irni menyandang keterbelakangan mental, kondisi ini tentu saja semakin menambah risiko kehamilan nantinya.

Janin yang dikandung Irni diduga hasil hubungan badan pamannya berinisial ST (38). Pamannya itu, diduga melakukan menyetubuhi Irni beberapa kali. ST ditangkap

anggota Satreskrim Polres Balikpapan menyusul laporan ibu Irni pada Senin (23/5) lalu. Selang beberapa saat setelah menerima laporan, ST ditangkap di kawasan Balikpapan Selatan tak jauh dari tempat tinggal Irni.

Setelah dilakukan visum di RS Bhayangkara Polda Kaltim, murid SD kelas 3 itu hamil dengan usia kehamilan menginjak lima bulan.  Aksi tak pantas dilakukan ST itu awalnya terjadi Januari 2011 lalu. (bp1/bai)

Hallo sahabat, Setiap anak berhak di lindungi dan ini menjadi salah satu pelanggaran hak anak. bagaimana tanggapan kalian ?

Leave a Reply

Required fields are marked*