Mengembangkan Semangat Bertoleransi

Berani.co.id Jakarta/1-Jun-2011

Ilustrasi

(ilustrasi)

Dari setiap konflik yang terjadi di masyarakat, korban pertamanya adalah kaum perempuan dan anak-anak. Baik itu konflik dari dalam rumah tangga maupun konflik lingkungan karena masalah suku atau agama.

Konflik membuat anak terpisah dari keluarga atau terpaksa tinggal di pengungsian. Di Indonesia, tercatat ada 1,2 juta pengungsi yang tersebar di 19 provinsi. Sekitar 350 ribu di antaranya adalah anak-anak. Tinggal di pengungsian membuat anak-anak kehilangan haknya untuk belajar, bermain, dan hidup damai. Nah, bagaimana agar anak-anak tidak harus menjadi korban dari sebuah konflik?

Perlu adanya usaha semua pihak untuk membangun kehidupan yang damai. “Salah satunya adalah mengembangkan budaya dan semangat bertoleransi sejak usia dini. Artinya, harus ada pendidikan semacam budi pekerti atau yang sekarang disebut pendidikan karakter. Dari pendidikan itu, anak-anak bisa belajar tentang menghargai pendapat. Atau, menghargai perbedaan lingkungan di mana kita tinggal,” begitu kata Aris Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak. Ia mengatakannya dalam acara Diskusi Menyelamatkan Anak Korban Konflik di Jakarta pada Selasa (31/5).

Peranan Media

Usaha lainnya untuk mengatasi masalah sosial pada anak adalah keterlibatan media. Tahukah kamu, anak-anak dianggap penting untuk terlibat dengan media. Hal itu berdasarkan Konvensi PBB tentang anak-anak. Setiap anak memiliki hak untuk mengekpresikan pandangannya melalui media apa pun pilihannya. Anak juga punya hak untuk mendapatkan informasi dan materi melalui media. Media pun dapat mendorong masyarakat untuk lebih peduli pada isu-isu tentang anak. Begitu penjelasan dari Angela Kearney, perwakilan UNICEF Indonesia. “Karenanya, kami berharap, para jurnalis menggunakan kemampuannya menyuarakan suara anak-anak. Anak-anak yang selama ini dianggap tidak terlihat dan tidak bersuara. Media bisa menjadi suatu panggung untuk menyampaikan pandangan, pendapat, tuntutan, dan janji bagi anak-anak,” begitu kata Angela Kearney di acara diskusi.

Liputan/penulis: ENO
Sumber: Redaksi Berani.co.id

Leave a Reply

Required fields are marked*