Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh :

Devi Ayu Rizki

Setiap tanggal 2 mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Peringatan tersebut selain mengenang kelahiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Perintis Pendidikan Nasional, juga penting untuk terus memperkuat kesadaran dan komitmen kita demi masa depan bangsa. Saat peringatan ini tiba, kita mencoba merenung apa yang akan kita kerjakan bagi masa depan bangsa?

Bangsa Indonesia seharusnya perlu menyadari bahwa Negara Indonesia memiliki bonus demografi di masa yang akan datang. Artinya jumlah penduduk yang besar dengan usia produktif yang cukup tinggi berpotensi meningkatnya produktifitas dalam segala sektor. Namun jika tidak dikelola dengan baik, hal ini justru akan menjadi bencana. Seluruh lapisan masyarakat harus dapat bersinergi untuk mengubah sumber daya dengan kuantitas yang besar menjadi sumber daya yang berkualitas tinggi.

Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, pendidikan adalah mesin penggeraknya. Namun, kesadaran akan pentingnya peranan pendidikan tidaklah dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat. Banyak masyarakat yang kurang mengerti bahkan sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya memproyeksikan anak untuk menjadi kebanggaan keluarga dan juga bangsa 5-10 tahun mendatang. Orang-orang awam hanya memegang prinsip bahwa tanpa latar belakang pendidikan pun setiap anak akan membawa rezekinya masing-masing.

Bagi sebagian besar masyarakat yang berekonomi rendah, mereka berasumsi anak berkewajiban menanggung biaya hidup keluarga terutama saat orang tua sudah tidak mampu menafkahinya. Jarang sekali terpikirkan oleh mereka untuk memberikan pendidikan yang baik agar anak-anaknya kelak dapat memiliki kehidupan yang layak. Berinvestasi untuk masa depan anaknya bukanlah pilihan. Pada akhirnya anak-anak tumbuh membawa pemahaman yang sama. Terus-menerus hingga akhirnya telah mengakar begitu dalam dan menjadi karakter yang kuat dalam diri mereka.

Berbeda halnya dengan masyarakat yang berekonomi menengah ke atas. Mayoritas dari mereka memiliki latar belakang pendidikan dan mempunyai pemahaman yang cukup akan pentingnya pendidikan. Karakter anak dalam kalangan ini justru ditekan dan dikikis oleh sistem pendidikan yang konsentris terhadap mata pelajaran eksak.

Anak-anak Indonesia bukanlah robot yang setiap saat hanya dijejali tugas-tugas sekolah dan dihantui oleh Standar Kelulusan Belajar Mengajar (SKBM) yang tinggi. Tujuan pengajar di sekolah menerapkan sistem belajar seperti ini memang untuk menajamkan pemahaman kita dalam menyiapkan sumber daya insan yang kompeten dan terampil.

Meski tugas-tugas itu memiliki manfaat yang besar, manfaat tersebut akan hilang jika pengajar di sekolah selalu memberikan tugas-tugas yang jawabannya sudah tersedia di dunia maya. Tanpa kontrol dari orang tua, tugas tersebut justru akan memberikan kesempatan pada anak untuk bebas ‘berselancar’ di dunia maya sedangkan tidak semua situs-situs internet bermanfaat bagi anak. Akibatnya ruang dan waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar pun tersita. Tidak hanya itu, ketika nilai anak sedang menurun sering kali menjadi bahan cemooh orang tua bahkan dibanding-bandingkan dengan anak-anak lain yang jauh lebih berprestasi. Mereka semakin tersudut dan tidak dapat mengembangkan diri karena harus memenuhi tuntutan-tuntutan yang tiada henti.

Jika sistem pendidikan terus-menerus seperti ini, generasi penerus seperti apa yang diharapkan? Apa jadinya bangsa Indonesia di masa yang akan datang? Indonesia hanya akan penuh dengan masyarakat yang pintar namun tak berkarakter.

Segala upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan. Tapi kenyataannya? Pertama, Pemerintah telah menyarankan dana bos 20% dari APBN. Sayangnya dana tersebut belum terealisasikan penuh dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Kedua, masalah pengangkatan guru yang belum siap mengajar dan kurang berkualitas. Ketiga, bantuan buku paket dari pemerintah yang tidak dapat digunakan siswa .dan pada akhirnya siswa harus membeli dari penerbit yang sudah bekerja sama dengan sekolah. Apalagi kalau tidak ada unsur bisnis di dalamnya? Keempat adalah perencanaan sekolah yang kurang komperhensif. Kelima, pembelian atau pembangunan sarana dan prasarana yang tidak berkualitas dan ditambah kurangnya perawatan dari pihak sekolah, membuat biaya pendidikan membengkak dan harus ditanggung siswa. Keenam, penerimaan siswa yang tidak sebagaimana mestinya menyebabkan anak-anak cerdas dari kalangan ekonomi rendah terkadang tersingkir oleh anak dari kalangan ekonomi tinggi dengan kemampuan akademik yang rendah. Benarkah pendidikan di Indonesia sudah gagal?

Sebagai bagian dari dunia timur, sejak lama kita mengklaim memiliki keunggulan dalam bidang karakter (religius, jujur, sopan-santun, rendah hati, toleran, tolong-menolong, saling menghormati, dan saling menyayangi). Semua sifat tersebut haruslah ada di dalam dunia pendidikan dan ditanamkan serta dilaksanakan oleh semua pihak.

Pendidikan sebagai mesin penggerak sedangkan lembaga pendidikan adalah motornya. Akan menjadi suatu sistem yang sempurna jika dilengkapi dengan penyusun yang tepat. Seperti itulah seharusnya pendidikan Indonesia. Lembaga pendidikan yang memiliki peran aktif dalam pembentukan karakter anak kini telah bermetamorfosis menjadi lembaga pengajaran yang hanya berpaku pada silabus dan kurikulum yang telah ditentukan.

Sudah jarang sekali di sekolah-sekolah ditanamkan nilai-nilai luhur pancasila terhadap murid. Paradigma yang paling mudah ditemukan adalah guru sudah tidak dekat dengan murid dan murid pun acuh tak acuh terhadap keberadaan guru. Situasi dan lingkungan yang tidak baik seperti ini akan menjadi faktor pemicu pembentukan karakter anak ke arah yang menyimpang. Hilangnya nilai saling menghormati, sopan santun, kepedulian, dan lain-lain. Maka tidaklah aneh jika anak-anak sekolah belakangan ini banyak diberitakan tawuran antarsekolah, bullying, pelecehan seksual, dan sebagainya. Ironis memang. Tapi ini kenyataan yang harus bersama-sama kita tentang. Maka dari itu, peran pendidikan harus dikembalikan pada fungsinya.

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 dijelaskan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak, serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini dikuatkan dalam bab 11 pasal 4 bahwa pendidikan itu diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Berdasarkan prinsip itu, hendaknya pendidikan diselenggarakan secara demokratis, baik dalam penerimaannya dan pengelolaannya. Dalam penyediaan fasilitas sekolah pun, selain bantuan dari pemerintah, sekolah juga harus memusyawarahkan dengan orangtua secara terbuka. Supaya tidak ada lagi perbedaan pendidikan antara masyarakat yang berekonomi rendah maupun tinggi.

Pendidikan karakter di sekolah bagaimana pun saat ini hanya skala laboratorium. Bahkan teori skala produksinya ada di ruang publik. Karakter harus dibangun dalam sistem (ruang publik) dan diwujudkan ke dalam kesantunan bernegara. Negara harus mulai mengurus dengan baik anak-anak terlantar, mengatasi kemiskinan, dan memberi santunan pada manula. Dalam perhitungan yang matang, hal-hal tersebut masuk ke dalam kelompok nominal kecil. Namun apabila terwujud sistem menyantuni kelompok lemah tersebut akan dapat membentuk karakter bangsa yang jauh lebih kuat tentunya dengan landasan pendidikan.

Anak-anak harus dipertegas proses pendidikannya supaya jati diri atau karakter bangsa tidak hilang. Hal ini sesuai dengan upaya Kemendiknas yang mengusung tema pendidikan 2011 yakni pendidikan karakter sebagai pilar kebangkitan bangsa dengan sub tema raih prestasi junjung budi pekerti. Dengan memperkuat komitmen sebagai pemangku kebijakan pendidikan tentang pentingnya pendidikan bagi peradaban dan daya saing bangsa. Mengkomunikasikan dan mensosialisasikan kebijakan dan hasil pembangunan pendidikan nasional.

Kita semua pun harus merenung dan bersatu serta berpikir apa yang akan diterima anak-anak Indonesia dengan mengacu pada visi kemendiknas 2010-2014, yaitu membentuk insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Dengan misinya 4k, yaitu ketersediaan, kualitas, keterjangkauan, dan kepastian. Semoga hal ini dapat mencetak generasi muda yang mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkarakter luhur.

 

Leave a Reply

Required fields are marked*