RS Gunung Jati Akan Hadirkan Kisah Inspiratif di Jelajah 3Ends Bandung

Berbagai cara untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan manusia, dan mengakhiri ketidakadilan akses ekonomi terhadap perempuan dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Salah satunya dengan mengadakan program 3Ends.

Program yang sudah disosialisasikan di Jailolo dan Belitung ini akan dilanjutkan ke ibu kota Jawa Barat, yaitu Bandung ,pada 19-20 November 2016 mendatang. Jelajah 3Ends ini akan menghadirkan Heru Purwanto, sebagai Direktur RS Gunung Jati Cirebon, untuk memberikan inspirasi kepada para peserta seminar yang hadir untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Rumah sakit ini sudah melayani korban kekerasan, baik perempuan maupun anak-anak, mulai Februari 2014 hingga sekarang. Bahkan, di rumah sakit yang dipimpin oleh drg. Heru Purwanto ini memiliki Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak.

Pusat pelayanan ini sudah menangani kasus sebanyak 302 kasus mulai dari tahun 2014. Kasus-kasus yang ditangani tersebut datang dari berbagai wilayah di sekitar kota Cirebon, seperti Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Kabupaten Cirebon.

Selain perempuan yang menjadi korban kekerasan, anak-anak yang menjadi korban kekerasan lebih banyak.  “Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak ini banyak menangani masalah anak-anaknya. Itu tentang pemerkosaan seksual dan sodomi,” ujar Heru Purwanto kepada Kompas.com, Kamis (17/11/2016).

Anak-anak yang menjadi korban tersebut ditangani secara mendalam, mulai dari mengobati luka fisik dan juga mentalnya, karena ada konseling dengan psikolog hingga para korban dinyatakan sembuh.

Perempuan yang menjadi korban kekerasan juga tidak sedikit. Biasanya para perempuan menjadi korban kekerasan fisik dalam rumah tangga.

Bekerja sama dengan sebuah asosiasi tenaga kerja Indonesia, pusat pelayanan terpadu ini juga menangani kasus tenaga kerja wanita (TKW) yang mengalami penganiayaan oleh majikannya. “Ada juga yang dari Abu Dhabi dan Arab. Kasusnya kekerasan dianiaya oleh majikannya,” kata Heru.

Dalam satu bulan, kasus kekerasan yang ditangani bisa mencapai 15 kasus. Pusat pelayanan terpadu ini juga bekerja sama dengan kapolsek yang menyediakan kuasa hukum, psikolog, dokter forensik, dan dokter spesialis yang terkait.

“Dulu, tiap ada kasus itu korban harus lapor ke polisi, lalu ke rumah sakit, trus ia mencari kuasa hukum. Kesulitan dia, (kasusnya) nggak pernah tuntas. Terus sekarang  ini di RS Gunung Jati itu dibuat pusat pelayanan terpadu untuk masyarakat secara gratis,” ujar Heru.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak ini masih menjadi isu global yang menjadi perhatian dari seluruh masyarakat. Dengan diadakan sosialisasi Jelajah 3Ends yang diselenggarakan oleh Kemen PPPA ini, diharapkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak segera menurun dan bisa berakhir.

“Harapan saya, (dengan adanya Jelajah 3Ends) supaya bisa mengurangi tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dan, kita juga memberikan harapan kepada korban supaya kasus-kasusnya bisa diselesaikan secara hukum,” ujar Heru. (Adv)

Leave a Reply

Required fields are marked*