Konsultasi Nasional ASEAN Commission on the Promotion and the Protection of the Rights of Women and Children (ACWC) Tentang Studi Pemetaan Hukum, Kebijakan dan Mekanisme Partisipasi Anak di ASEAN

Jakarta, 23 Agustus 2017

Acara dimulai pukul 9.45 WIB.  Dibuka oleh Bu Titi Eko Rahayu, Biro Perencanaan KPPPA.  Acara dihadiri Pak Nukman Sanusi, staff ahli Kemensos. Beliau menyinggung mengenai Suara Anak Indonesia dan menurut pendapat beliaum Suara Anak Indonesia perlu ditindaklanjuti oleh berbagai pihak. Kemudian Ibu Lili Purba,  ketua ACWC ASEAN perwakilan Indonesia. Beliau menyampaikan ACWC merupakan lembaga yang juga concern pada anak dan perempuan, dengan cara melakukan standard atau guidline untuk partisipasi anak dan perempuan, mekanisme HAM di ASEAN. Memastikan CEDAW, CRC sudah bisa dilakukan oleh masing-masing negara anggota ASEAN. Ada juga Ibu Yuyum Fahri Fahyani perwakilan ACWC dari Indonesia.

Gambar 1. Peserta Konsultasi Nasional ACWC Tentang Studi Pemetaan Hukum, Kebijakan dan Mekanisme Partisipasi Anak di ASEAN

Acara dilanjutkan dengan pemaparan hasil penelitian dari Pak Muhrisun Afandi (national researcher), mengenai laws, policies and mechanism on child participation ASEAN and ASEAN member states, Asean Commission on The Promotion And Protection Of The Rights Of Women And Children (ACWC).

Beliau menyampaikan kegiatan penelitian ini difasilitasi oleh  Philippines, karena itu yang menjadi national rescearcher utama itu dari Philiphine yakni Roberto S. Salva dan Melba L. Manapol. kemudian national researcher dari negara anggota ASEAN lainnya, sebagai pengisi informasi mengenai partisipasi anak di negara masing-masing.

Daftar nama National Researchers ASEAN :

National Researchers

Brunei Darussalam      : Hanapi Bin Mohamad

Cambodia                    : Kosal Sao

Indonesia                    : Muhrisun Afandi

Lao PDR                     : Jacob Cawthorne

Malaysia                      : Farah Nini Dusuki

Myanmar                     : Myo Myint Htun

Philippines                   : Roberto S. Salva and Melba L. Manapol

Thailand                      : Chitrapon Vanaspong

Viet Nam                    : Vu Anh Son

 

Pak Muhrisun Afandi menyampaikan desain awal penelitian ini sesuai kesepakatan adalah desain baseline tentang partisipasi anak bukan hanya tentang kebijakan, tapi tentang bagaimana partisipasi anak itu sendiri di  level keluarga, sekolah, pelayanan kesehatan, juga di lingkup yang lebih luas. Isi laporan awal penelitian : background, scope, barriers (hambatan, persoalan, dan pendapat anak). Pada desain penelitian yang baru terbatas pada studi kebijakan saja, dan fokus pada 4 pertanyaan berikut :

  1. Apa saja kebijakan dan hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang mendorong partisipasi anak ?
  2. Mekanisme apa yang diterapkan untuk mengimplementasikan hukum dan kebijakan mengenai partisipasi anak tersebut ?
  3. Bagaimanakah status terkini dari implementasi kebijakan, kerangka hukum mengenai partisipasi anak tersebut ?
  4. Langkah apa yang dilakukan oleh negara anggota ASEAN atau respon seperti apa yang diberikan setelah menfapat Concluding Observation yang berhubungan dengan partisipasi anak yang dibuat oleh UN Committee yang fokus pada hak-hak anak ?

Pak Muhrisun Afandi menjelaskan bahwa ada permasalahan di beberapa isi penelitian, Philippines telah melakukan penelitian yang tidak sesuai perjanjian, akibatnya dalam hasil penelitian laporan Indonesia kurang mewakili, begitu juga menurut national researchers dari negara anggota ASEAN lainnya.

Hal ini diperkuat dengan tanggapan Pak Dermawan, Asisten Deputi Hak Sipil dan Partisipasi anak, beliau menyampaikan bahwa mulai tahun 2012 KPPPA sendiri sudah banyak mengeluarkan peraturan mengenai partisipasi anak. Keberadaan Forum Anak sebagai wadah partisipasi juga memperlihatkan performa yang baik, kemudian FA suaranya sudah mulai didengar, suara anak yang dibuat oleh anak-anak delegaasi seluruh provinsi dalam pertemuan Forum Anak Nasional masuk dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional). Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia bisa dibilang sudah lebih unggul.

Tanggapan dari Forum Anak :

Amel                     : Forum Anak Nasional punya suara anak dan rencana aksi nasional, WEBSITE statusfan.com dan forumanak.id sudah terintergrasi, Majalah forum anak (Malfora) sudah oprec redaktur ke setiap daerah.

Dimas                    : RPTRA ada dalam isu pemenuhan hak atas rekreasi dan pemanfaatan waktu luang, pusat informasi. (ra) bisa bercerita dan berekspresi.

Afdal                     : UU Ketahan Keluarga, GN AKSA dilakukan bersama, tesa 129, pojok ramah anak, mall, statiun ka, puskesmas ramah anak, sekolah ramah anak menjadi yang sudah sangat memperhatikan anak-anak

Tangggapan dari UNICEF : Bisa menambahkan data lewat platform U report dari unicef, sekitar 7000 anak sudah memberikan pendapat melalui platform itu.

Gambar 2. Forum Anak Nasional sedang memberikan tanggapan

Kegiatan dilanjutkan dengan FGD (Focus Group Discussion) dibuat 5 kelompok untuk mengevaluasi setiap bab mengenai partisipasi anak di Indonesia. Seluruh peserta di bagi sehingga satu kelompok diisi oleh berbagai unsur. Kemudian setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan memberikan data evaluasi pada panitia acara. Panitia menyebutkan bahwa akan ada pertemuan lanjutan mengenai bahasan ini.

 

Created by Dhita Yoana

Leave a Reply

Required fields are marked*