Symposium Nasional Dalam Rangka Peringatan Hari Ibu Ke-89 Tahun 2017

Pertama-tama, terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI yang telah memberikan kesepatan kepada Forum Anak Nasional untuk menjadi bagian dasi Symposium Nasional Perempuan 2017.

Senin, 4 Desember 2017 bertempat di Hotel Shangrila Jakarta, dilaksanakan Symposium Nasional dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-89 Tahun 2017 dengan tema “Peran Ibu dan Ulama Perempuan Sebagai Pencipta Dan Penggerak Perdamaian Dalam Kelurga dan Masyarakat”. Forum Anak Nasional diwakili oleh Sekretariat Forum Anak Nasional yaitu Intan Putriani, Mulyani Pratiwi S. W dan Muhammad Ade Safri Salampessy. Symposium Nasional tersebut dihadiri oleh 500 peserta yang berasal dari perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di berbagai wilayah di Indonesia, Organisasi yang bergerak di bidang perempuan dan anak, serta tokoh-tokoh ulama perempuan Indonesia. Symposium tersebut menjadi lebih spesial karena dihadiri oleh Ibu Negara Afghanistan H. E Rula Ghani, beliau adalah sosok yang memperjuangkan dan peduli terhadap hak-hak perempuan khususnya dalam menjaga perdamaian.

Symposium Nasional Perempuan tahun ini dibuka langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Ibu Yohana Yembise, di damping oleh Ibu Negara Afghanistan Ibu H. E. Rula Ghani, Menteri Luar Negeri RI Ibu Retno Marsudi, Menteri Agama RI Bapak Lukman Hakim Saifuddin, dan Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia Bapak Roya Rahmani dan Anggota OASE Kabinet Kerja. Dalam sambutannya Ibu Yohanna mengatakan bahwa keluarga adalah lingkungan paling pertama untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian. Karena itu, beliau mengajak ibu-ibu rumah tangga, dalam rangka Hari Ibu untuk kita semua bangkit dan menjadi peace maker di dalam keluarga kita masing-masing. Acara kemudian dilanjutkan dengan Pidato dari Keynote Spekaer Ibu Rula Ghani, dalam pidatonya beliau menyampaikan beberapa hal terkait langkah-langkah yang dilakukan oleh Afghanistan dalam menangani dan mewujudkan perdamaian sosial, beliau juga menyampaiakn bahwa kunjungan singkat beliau ke Jakarta untuk mendengarkan pengalaman dan saran dari Indonesia dalam mempertahankan kedamaian.

“saya menantikan pertemuan dengan Ulama Perempuan Indonesia dan manfaat dari pemahaman mereka tentang tuntunan Kitab Suci Al-Quran dan bagaimana mereka bergantung pada tuntunan tersebut dalam upaya membangun perdamaian Indonesia”. Rula Ghani juga menegaskan bahwa Perempuan/Ibu adalah juru damai di dunia.

Setelah coffee break Symposium dilanjutkan dengan paparan dari beberapa narasumber yaitu Gusti Kanjeng Ratu Hemas berbicara terkait Penyelesaian Konflik dalam Pendekatan Kultural, Ibu Yeni Wahid membahas Potret Toleransi dan Radikalisme di Indonesia, Suraiya Kamaruzzaman seorang penggiat HAM Perempuan dari Aceh yang memaparkan tentang Ibu Sebagai Sekolah Pertama Untuk Membangun dan Merawat Perdamaian, Siti Noorjannah Djohantini, M.Si Ketua PP Aisyiyah berbicara terkait Peran Organisasi Keagamaan Perempuan Dalam Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, dan pembicara terakhir Ibu Ninik Rahayu Pimpinan OMBUDSMAN RI yang memaparkan terkait Perlindungan dan Penanganan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

Beranjak dari paparan narasumber, symposium dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Forum Anak masuk dalam Kelompok I yang membahas terkait peran Ibu di Keluarga dalam Mengatasi KDRT dan Kawin Usia Anak, dengan pembicara utama Imam Nakho’i. Dalam diskusi kelompok ini para peserta diberikan kesempatan untuk sharing terkait contoh kasus KDRT serta Perkawinan Usia Anak dan penanganannya. Kemudian diakhiri dengan penyampaian Deklarasi, Kesimpulan dan Rekomendasi dari Symposium kali ini. Pukul 16.30 Acara kemudian ditutp langsung oleh Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat dan Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan.

Symposium ini diharapkan bisa memberikan kesadaran kepada Pemerintah, masyarakat dan lebih khususnya wanita/Ibu sendiri akan pentingnya peran Ibu dalam menciptakan perdamaian dunia.

Leave a Reply

Required fields are marked*